Skip to main content

The Last Drama: Lokalisasi Bahasa

Mengenai soal lokalisasi bahasa, saya juga pernah diskusi sama beberapa Fansubber. Di mana akhirnya diputuskan bahwa ada beberapa kata yang memang tidak usah dilokalisasi dengan beberpa alasan, terutama nama instansi dan pekerjaan.


1. Kita anggap lokasi di anime itu bukan di Jepang dunia nyata meski anime itu lokasinya di sana. Jadi istilah khusus dianggap berasal dari semesta anime itu bukan berdasarkan dunia nyata.

2. Pekerjaan, ini paling banyak muncul di beberapa anime non slice of life. Misalnya paling simpel Naruto dan Bleach. Dub Indonesia pun tidak melokalisasi, kita tetap denger istilah macam Hokage (bukan kepala desa). Kalau enggak salah Dub Indonesia Bleach pun memang pernah pakai istliah Dewa Kematian, namun saat Arrancar muncul, istilah kembali pada asli, yaitu Shinigami. Karena Arrancar dan ras lain enggak bisa dilokalisasi juga.

Contoh lain: Elaina kerjaannya adalah Majo. Dilokalisasi memang jadi penyihir tapi beda sama English, Indonesia tidak punya macem2 jenis penyihir kayak Magician, Spellcaster, dll. Cuma punya Dukun (Shaman?) dan Penyihir (Witch kurasa). Dan di Indo, penyihir ini sterotypenya itu ya penyihir jahat macam apa tapi Elaina sendiri lebih mendekati Harry Potter yang seorang Speellcaster. Solusinya akhirnya tetap mempertahnkan kata Majo sebagai pekerjaan Elaina. Gue belum selesai nonton tapi setahu gue bahkan gurunya bergelar Hoshikuzu Majo (Stardust Magician) kalau enggak salah.

Intinya bukan memaksa Jepang ke Indonesia hanya karena ini takarir Indonesia. Contoh lain.

Jepang ke English kadang lebih enak daripada Jepang ke Indonesia. One Piece misalnya, lebih enak enggak pakai istilah Jepangnya tapi Englishnya misal Admiral. Orang2 Indonesia yang tahu One Piece pasti lebih pakai kata Admiral daripada lokaliasi macam Laksamana.

Comments